Home Setahun di Nippon TACHIYOMI DAN BUDAYA BACA MASYARAKAT JEPANG

TACHIYOMI DAN BUDAYA BACA MASYARAKAT JEPANG

173
0

Apa itu Tachiyomi ? Tachiyomi  berasal dari dua kata yaitu tachimasu yg berarti berdiri dan yomimasu  yang berarti membaca, jika dua kata ini digabungkan menjadi Tachiyomi, maka dapat diartikan sebagai membaca sambil berdiri. Yah masyarakat Jepang memang terkenal dengan budaya bacanya mulai dari sejak TK sampai usia lanjut. Bukan hanya anak muda, tapi usia lanjut juga sangat senang membaca bahkan salah satu mantan Perdana Menteri Jepang, Taro Aso hingga saat ini merupakan pecinta manga (komik Jepang). Bahkan di tengah-tengah kesibukannya saat menjabat sebagai Perdana Menteri, Taro Aso masih sering memanfaatkan waktu luangnya dengan membaca komik.

Budaya membaca yang tinggi pada masyarakat Jepang jika dibandingkan dengan negara lain tidak tumbuh begitu saja, tapi by design salah satu contohnya kurikulum sekolah di Jepang di buat sedemikian rupa sehingga pada usia dini anak TK sudah diajar membaca, dengan “memaksa” untuk menyukai buku, dengan membuat permainan lebih banyak pada bagaimana mengenal huruf, hingga mengundang mahasiswa internasional untuk berinteraksi dengan mengenalkan mereka huruf.  Disamping usaha sekolah, orang tua sangat berperan bagaimana meningkatkan minat anak membaca, salah satunya dengan memberikan hadiah berupa buku bacaan atau komik, dan menjadikan perpustakaan daerah sebagai tujuan wisata di akhir pekan.  Perpustakaan daerah yang dikelola pemerintah sangat menarik minat para pengunjung, karena tidak hanya mengoleksi buku bacaan, tapi juga koleksi kaset rekaman film,  piringan hitam musik hingga lukisan yang tentu saja semuanya dapat di pinjam oleh pengunjung. Satu hal yang menarik, pengalaman penulis pernah meminjam buku di perpustakaan daerah dan karena kesibukan lupa mengembalikan buku tersebut, sehingga lewat batas waktu peminjaman selama 3 bulan. Akan tetapi pada saat mengembalikannya penulis sama sekali tidak dibebani denda. Saat memasuki tingkat SD, siswa diberi tugas menuliskan cerita tentang musim liburan panas mereka yg akan segera tiba dan mempresentasekan di depan kelas begitu liburan usai, hingga seorang nenek yg memegang tongkat disebelah kanan dan buku yang tebal disebelah kiri sambil berdiri ditaman membaca buku.

Tachiyomi  merupakan kabiasaan masyarakat Jepang baik anak muda maupun usia lanjut untuk memanfaatkan waktu luang mereka untuk membaca,  biasanya membaca sambil berdiri di depan toko buku. Buku yang dibaca bermacam-macam mulai dari majalah, komik (manga) buku pelajaran atau buku yang lainnya. Bukan hanya toko buku yang menyediakan bahan bacaan, tapi convenience store sperti 7eleven, lawson atau lainnya menyediakan sudut baca (read corner) untuk mengakomodasi tingginya minat baca masyarakat tersebut. Disamping itu aturan di negara sakura sangat ketat mengatur pembeli yang boleh membeli bahan bacaan orang dewasa di read corner tsb, membeli rokok atau minuman alkohol. Tapi penulis disini tidak akan membahas terlalu jauh mengenai kebijakan tersebut.

Dengan tingginya pola baca masyarakat jepang, maka toko buku, toko buku cafe hingga convenience store menyediakan khusus buku atau komik populer bagi pembaca yg hanya ingin membaca, membaca buku/komik tersebut sebelum memutuskan membacanya atau hanya sekedar membaca gratis. Sekedar catatan, orang Jepang tidak semuanya mampu membeli buku tertentu, karena bagi kantong masyarakat Jepang sendiri harga buku tertentu harganya mahal.  Bahkan ada pembaca yang memang sudah menahbiskan diri sebagai “pelanggan” tetap di suatu toko buku dan menjadi Tachiyomi  sejati. Pemilik toko buku tidak melarang para Tachiyomiers (baca: pelaku Tachiyomi) tapi pemilik toko buku akan menyediakan 1 (satu) buku/komik yg masih tersegel untuk di baca bagi pengunjung toko buku tersebut. Penjual tidak akan merugi hanya karena bukunya di baca “gratis” oleh Tachiyomiers, tapi malah terjadi simbiosis mutualisme, yaitu bagi pembaca dapat membaca buku gratis, dan bagi penjual menjadi promosi gratis bagi pengunjung lain yg kebetulan lewat di toko buku tersebut karena akan terusik rasa penasarannya. Para pejalan kali akan tertarik melihat keramaian di toko buku tersebut, dan diharapkan dapat membeli beberapa koleksi buku. Sudah menjadi rahasia umum jika semakin ramai Tachiyomiers di depan toko buku berbanding lurus dengan peningkatan penjualan buku/komik di toko buku tersebut. Selain itu, dengan adanya buku/komik keluaran baru maka Tachiyomiers akan memberitahukan rekan-rekan “seprofesi” mereka untuk membaca, atau bagi Tachiyomiers jika ingin lebih puas membaca atau mengoleksi buku/komik keluaran baru tersebut maka akan memutuskan membeli. Penulis bahkan penerbit pastinya sangat terbantu dengan promosi mulut ke mulut tersebut, apalagi jika isi komik/buku di review oleh para Tachiyomiers pada komunitas mereka. Kemajuan teknologi seperti digital komik atau sejenisnya tidak begitu saja menggerus peminat Tachiyomi , karena ada kepuasan tersendiri bagi Tachiyomiers dengan membaca buku/komik dari kertas. Apalagi dengan membuka segel dan mencium bau kertas buku/komik baru, dapat membangkitkan “gairah” membaca para Tachiyomiers yang akan menimbulkan sensasi tersendiri dengan puncak kenikmatan membaca yang tak terkirakan, itulah kira-kira yg membuat para Tachiyomiers selalu setia di depan toko buku menunggu dan membaca setiap ada buku/komik keluaran baru.

Pelajaran Yang Dapat Dipetik Dari Budaya Tachiyomi

Bagaimana dengan masyarakat kita di Indonesia? tak jarang jika kita bepergian dengan menggunakan angkutan umum baik di kereta maupun di busway, penumpang sangat jarang menggunakan waktu luangnya dengan membaca buku atau berita di handphone, saat menunggu bus/kereta di stasiun/di halte, menunggu hingga tiba  di tujuan waktu terbuang begitu saja. Selain itu, berdasarkan pengamatan penulis di convinience store seperti 7eleven atau Lawson hanya digunakan sebagai tempat berkumpul (gathering point) tanpa variasi koleksi buku/komik yang dapat menarik minat para Tachiyomiers masyarakat kita Indonesia. Padahal seperti kita ketahui dengan tingginya minat baca, maka akan membuat seseorang lebih memahami, menguasai dan menghargai ilmu pengetahuan sehingga dapat meningkatkan daya saing bangsa. Seperti kita ketahui bangsa yang hebat terdiri dari individu-individu yang luar biasa. Salah satu cara membuat individu luar biasa adalah dengan memulai dari peningkatan pengetahuan dan ilmu, dan cara sederhana meningkatkan ilmu pengetahuan adalah dengan membaca. Bukankah membaca membuka jendela dunia. Seperti ayat Al-Quran yang pertama diwahyukan “Iqra” yang berarti bacalah.

Kebiasaan membaca orang memang berbeda, beberapa orang sejak kecil suka membaca yang terbawa hingga dewasa. Bagaimana jika kita yang sudah tidak kecil lagi ingin menumbuhkan minat baca, atau adakah solusi di tempat kerja kita agar dapat meningkatkan minat baca karyawannya?. Salah satu cara yang dapat kita gunakan adalah pada saat sedang menunggu angkutan ke dan dari kantor, dengan membawa satu buku bacaan yang ringan yang dapat dimasukan ke dalam saku sehingga dapat di baca saat waktu luang ada, atau dengan menginstall buku digital ke dalam perangkat mobile kita (gadget) sehingga memudahkan untuk membacanya. Dengan cara ini, niscaya selain dapat menambah wawasan, juga menghilangkan kebosanan di jalan karena kemacetan. Selain itu, setiap Divisi dapat membuat perpustakaan kecil dan setiap bulannya dapat menambah koleksi buku di perpustakaan tersebut dengan pembelian buku baru yang bukan hanya berkaitan langsung dengan divisi terkait, tapi juga yang berkaitan dengan isu terkini yang erat kaitannya dengan isu strategis perusahaan. Dengan fasilitas ini, maka akan memudahkan bagi karyawan untuk mengakses bahan bacaan yang erat kaitannya dengan pekerjaan, sekaligus dapat mengupgrade ilmu karyawan. Sehingga diharapkan dapat menjadi langkah positif peningkatan dasa saing perusahaan. Bukankah perusahaan yang kuat terdiri dari insan individu-individu yang luar biasa?

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here