Home Setahun di Nippon The Long Journey to Japan

The Long Journey to Japan

71
2

Pada tulisan kali ini, saya akan menceritakan beberapa pengalaman saya mengenai kesempatan mengikuti pertukaran pelajar (Student Exchange) di Universitas Saga, Jepang selama setahun. Pada pertengahan september 2006, Universitas tempat saya mengenyam pendidikan tinggi (universitas Hasanuddin) mendapatkan Undangan untuk mengirimkan salah satu mahasiswanya sebagai peserta pertukaran pelajar selama setahun di Jepang melalui program SPACE (Saga University Program for Academic Exchange). Kebetulan Universitas Hasanuddin dan Universitas Saga telah menjalin kerjasama atau  MoU (memorandum  yang salah satunya mengirimkan peserta pertukaran pelajar dari Universitas Hasanuddin ke Unversitas Saga. Sebagai langkah awal, rektor kemudian membentuk panitia dan tim dewan juri untuk menyeleksi beberapa mahasiswa yang dianggap dapat menjadi representasi universitas pada program tersebut. Dikirimlah undangan kepada setiap fakultas untuk mengirimkan wakilnya sebagai kandidat untuk bersaing dengan peserta dari fakultas lain. Saya yang merupakan mahsiswa fakultas Hukum dan beberapa teman yang lain menjadi peserta dalam audisi ini. Kebetulan saya mendapat rekomendasi dari Dekan fakultas Hukum walaupun di hari hari terakhir batas waktu pengumpulan berkas rekomendasi. Sebagai catatan, peserta tidak dapat diikutkan seleksi jika tidak mendapatkan rekomendasi dari dekan, informasi itu yang saya dapatkan dari panitia. Tapi belakangan ada beberapa peserta yang ikut seleksi tanpa harus mendapatkan rekomendasi dari pimpinan fakultas tersebut. Mungkin mereka punya kelebihan dan kompetensi yang lain. (just try to think positively).Competitiveness was begin here 

Setelah menjadi kandidat dari fakultas, kami harus bersaing dengan teman teman dari fakultas lainnya, karena dari informasi yang kami dapatkan, maksimal hanya dua orang yang akan lolos pada tahap akhir yang kemudian berkasnya akan dikirimkan ke Universitas Saga, Jepang. Langkah awal yang harus kami lakukan adalah melengkapi berkas-berkas seperti Transkrip nilai, sertifikat pendukung, paspor, English language ability, KTP  dan beberapa dokumen pendukung lainnya. IPK saya pada waktu itu merupak IPK teritnggi dari seluruh peserta dan saya juga mempunya banyak sertifikat kegiatan, maupun seminar internasional yang cukup membantu saya terlihat unggul dibandingkan dengan peserta yang lainnya. Setelah berkas lengkap, kami dimnta untuk menunggu Pengumuan selanjutnya.

Pada sekitar awal Oktober 2006 pihak panitia mengumumkan peserta yang lolos pada tahap selanjutnya yaitu proses interview dan presentase langsung di depan Rektor dan beberapa Dewan Juri yang terdiri dari bermacam Disiplin ilmu. Seingat saya yang menjadi Juri pada saat itu Seorang Dosen Teknik, ekonomi, Hukum, sastra Inggris dan PR IV serta PR I yang menjadi notulen. Pada tanggal yang ditentukan, dari sekitar 20 orang yang mendaftar pada tahap awal, tersaring 6 orang yang dinyatakan lolos untuk proses interview. Dari enam orang termasuk saya, ternyata semuanya wanita dan hanya saya yang pria. Saya bisa menilai peserta tersebut semuanya berkompeten dan layak merepresentasikan Universitas kami. Ada peserta yang merupakan tentor bahasa inggris, ada yang pernah tinggal sejak kecil di Amerika, ada anak dosen yang sangat cerdas, ada yang menguasai tiga bahasa yaitu Jerman, Jepang dan Inggris, juga ada kerabat JK yang dari penampilannya sudah terlihat smart. Dan satu lagi peserta yang baru belajar intensif bahasa inggris tiga bulan terakhir yaitu penulis sendiri. Tapi selama kita memiliki kompetensi yang sama dan berimbang, saya tidak pernah ragu untuk berkompetensi dan “menjual” diri di depan Rektor dan Dewan Juri.

The Interview and Presentation

 Pada saat sesi wawancara dimulai, kami dibagi kedalam dua kelompok yaitu kelompok pertama tiga orang dan kelompok kedua juga tiga orang. Saya sendiri masuk dalam kelompok pertama yang berarti menjadi kelompok pertama yang diwawancarai. Saya bersama dua peserta wanita yang merupakan tentor bahasa inggris dan seorang lagi anak Dosen yang cerdas. Sedangkan tiga peserta lainnya menunggu dengan gundah dan menerka-nerka pertanyaan yang akan muncul.  Didalam ruangan wawancara tersebut merupakan ruangan kerja Rektor dengan dilengkapi beberapa lukisan para rektor terdahulu, Hiasan meja dari beberapa Universitas sahabat, serta  Universitas dan  Negara yang pernah dikunjungi oleh sang Rektor. Meja yang digunakan pada sesi interview tersebut berbentuk oval panjang, peserta duduk di ujung meja berhadapan langsung dengan Rektor yang duduk di ujung meja berlawanan. Sementara tim dewan juri duduk di sebelah sisi meja yang merupakan sisi kiri peserta, sedangkan PR I yang merupakan notulen berada disebelah kanan kami yang mengoperasikan sebuah laptop yang langsung terhubung dengan proyektr yang berada dibelakangnya. Saya sebagai peserta laki laki duduk disebelah paling kanan, kemudian si tentor bahasa inggris dan anak dosen yang cerdas tadi.

Ternyata menjadi peserta yang pertama cukup deg-degan, ditambah lagi posisi kursi saya yang berada sisi paling kanan serta metode interview yang kurang variatif menyebabkan saya selalu menjadi peserta pertama yang harus menjawab pertanyaan dari semua Juri dan kemudian beruturut turut peserta lainnya dengan pertanyaan yang sama. Ini cukup tidak adil sebab dengan pertanyaan yang sama, peserta lain punya waktu untuk menjawab pertanyaan yang sama dengan pertanyaan yang diajukan ke saya serta mereka dapat menambah serta mengurangi jawaban saya yang kurang sempurna. Tapi kelebihannya jika ada pertanyaan pilihan saya yang diuntungkan, karena jawaban saya akan terlihat originalitasnya dan tidak terkesan mencontek dari peserta lain.

Walaupun seluruh pertanyaan selalu saya yang menjawab pertama, dan dibekali dengan kemampuan bahasa inggris dari kursus intensif selama 3 bulan dan hasil bacaan tentang universitas yang akan saya tuju dari berbagai literatur dan sharing dengan beberapa senpai (senior), penampilan saya cukup mengesankan dan meyakinkan. Itulah yang bsia saya baca dari tanggapan dewan juri dan sorotan mata dari Rektor. Tidak terlhat kekakuan dan kecanggungan dalam menjawab pertanyaan inti hingga pertanyaan penutup. Salah satu pertanyaan inti yang saya jawab dan kemudian bisa meyakinkan dewan Juri bahwa saya sebagai salah satu kandidat yang dapat merepresentasikan Universitas kami yaitu “Your Japanese Language ability is poor or just say you cant speak Japanese at all. So how you can understand the Japanese lesson if u pass in this selection and study in japan?, ”  dan kemudian saya menjawab “Thank you sir, in Japan soon after we coming to japan we will get a Japanese tutor and a lot of Japanese friends. from them, I will ask some question if I dont Underststand what lecturer says and other Japanese lesson. ” dan pertanyaan terakhir dari dewan Juri adalah “coba sebutkan sebuah kalimat bahasa Jepang yang anda ketahui” saya kemudian menjawab “aishiteru” (I Love U) hahaha…semua juri dan Rektor tertawa setelah mendengar jawabanku. Maklum karena tidak pernah kurusus, penguasaan bahasa Jepang  saya sangat terbatas.

The Announcement

Sekitar akhir Desember, keluarlah pengumuan mengenai nama-nama peserta yang dinyatakan lolos pada sesi wawancara. Peserta yang dinyatakan lolos pada sesi wanwancara adalah seorang peserta yang pernah tinggal sejak kecil di Amerika, kerabat JK yang dari penampilannya sudah terlihat smart dan saya sendiri. Akhirnya kami bertiga yang dinyatakan lolos oleh universitas berkas kami dikirimkan ke Universitas Saga sebagai perwakilan Universitas. Selanjutnya, Pihak Univeristas Saga yang akan menyeleksi seluruh kandidat dari berbagai universitas dari berbagai Negara yang mempunyai hubungan kerjasama dengan Univeriatas Saga.

Sekitar Awal Februari 2007, Oleh Universitas Saga dimumkanlah  nama peserta yang dinyatakan lolos untuk mengikuti Program pertukaran pelajar SPACE (Saga Univeristy Program for Academic Exchange) periode tahun 2007-2008, dan Alhamdulillah saya dinyatakan sebagai salah satu peserta yang lolos unutuk mengikuti pertukaran pelajar tersebut. Akan tetapi kedua rekan yang lain dinyatakan tidak lolos. Hasil ini  tidak terlepas dari do’a dan dukungan semangat  dari orang tua, rekan rekan dan usaha yang tidak henti hentinya memotivasi saya untuk  berjuang dan terus optimis dalam menggapai cita cita.

Sembari menantu Certificate of Eligibility dari Universitas Saga sebagai salah satu persyaratan pengurusan Visa, saya masih melanjutkan perkuliahan, menyusun proposal skripsi dan mendaftarkan diri sebagai peserta Program Kuliah Kerja Nyata (KKN). Maklum pada saat itu saya sudah semester 6. Saya berpikir alangkah lebih baik jika saya bisa menyelesaikan seluruh kegiatan wajib fakultas sebelum saya menjalani pertukaran pelajar selama setahun, agar beban kuliah yang akan saya hadapi dan persiapan untuk meraih gelar sarjana jika saya kembali tidak menjadi hambatan dan akan memudahkan saya sendiri. Akhirnya pada pertengahan April 2007 saya mendapatkan Surat dari Saga University yang berisi Certificate of Eligibility yang menerangkan bahwa Benar Univeristas saga akan menerima saya sebagai mahasiswa asing, dan sebagai penjamin biaya kuliah dan hidup selama setahun yang akan di tanggung oleh Jasso Schoraship. Untuk sekian kalinya saya mengucapkan syukur Alhamdulillah, Karen selain mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program pertukaran pelajar, saya juga mendapat full scholarship dari Jasso Foundation.

Pada Pertengahan September 2007, saya merampungkan Kuliah Kerja Nyata (KKN) Profesi saya dan berencana mengajukan proposal Sripsi, karena saya berencana mealukan penelitian lapangan dan salah satu lokasinya, berada di Jepang. Akhirnya sehari sebelum keberangkatan saya ke Jepang, yang pada saat itu merupakan Bulan Ramadhan yaitu pada tanggal 25 September 2007 disaksikan dengan teman seangkatan dan mahasiswa fakultas hukum yang lain, saya dapat mengajukan proposal skripsi saya didepan Pembimbing dan tim Penguji Proposal. Walaupun terkesan terburu buru dan kejar tayang, Pihak Penguji dan Pembimbing dengan bersama sama sepakat menerima Proposal saya untuk dilanjutkan sebagai skripsi dan mrekomnedasikan penelitian lapangan saya salah satunya di Jepang, sebagai tambahan, tema skripsi saya pada saat itu berkutat pada masalah Cyber Crime. Saya bangga dan sekaligus terharu, karena diangkatan saya (FH-UH 2004) saya yang pertama mengajukam proposal penelitian dan oleh Tim Penguji dan Pembimbing direkomendasikan untuk melakukan penelitian di Luar Negri. Setelah pembacaan rekomendasi rekomendasi dan beberapa catatan perbaikan proposal skripsi, saya mengucapkan menyalami dan berterimakasih sekaligus pamitan kepada Dosen Pembimbing, penguji, dan rekan rekan lainnya karena keesokan harinya saya akan melanjutkan perjalanan study saya selama setahun di negeri sakura.

2 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here